Rabu, 08 Agustus 2012

PROYEK JEMBATAN MERAH PUTIH (JMP) TELUK AMBON MANISE DAN PERJUANGAN HIDUP PARA PENDAYUNG PERAHU TRADISIONAL (Sebuah catatan Kritis tentang Kebijakan Pemerintah)

Pembangunan Jembatan Merah Putih kini menjadi polemik, pembangunan yang memakan dana dengan nilai nominal yang fantastis itu, dikatakan akan menjadi kunci bagi perbaikan ekonomi daerah, karena dengan keberadaan Jembatan Merah Putih (JMP) akan merangsang gairah investor untuk menanamkan modal usahanya di daerah kita ini. namun di lain pihak pembangunan JMP ini justru menjadi ancaman bagi para pendayung perahu tradisional yang menggantungkan hidup mereka pada mata pencaharian lewat profesi itu. Pembangunan JMP juga dikhwatirkan akan mematikan ekosistem laut di sekitar Teluk ambon Dalam tulisan kali ini penulis hendak mengangkat polemik ini untuk di paparka kepada kita sekalian supaya dapat di pikirkan juga menilai sacara kritis tentang kebijakan-kebijakan yang di ambil oleh pemerintah daerah kita saat ini khususnya tentang Proyek JMP ini.

Saya memulai membuka dengan memaparkan fakta-fakta di bawah ini :
Proyek JMP Menurut Kacamata Pemerintah!!!
Untuk memacu pertumbuhan ekonomi sebuah daerah maka sangatlah  diperlukan infrastruktur yang memadai khususnya berupa sarana jalan dan jembatan. dengan  sarana jalan yang memadai akan semakin menarik investor untuk menanamkan modal dan membuka jaringan bisnis mereka di daerah itu.
Kurang lebih 15 tahun Pemeritah kota Ambon bermimpi untuk mendirikan sebuah jembatan  penghubung kawasan desa Galala dan Poka. Mimpi itupun terjawab pada tahun 2012 ini ketika mimpi itu mulai terbangun menjadi sebuah kenyataan, dimana proyek Prestisius itu telah dimulai, hal ini nampak ketika Pemerintah mulai membangun bentang tengah Jembatan Merah Putih di Ambon. Proyek senilai Rp 416,76 miliar tersebut digarap PT Waskita Karya, PT Pembangunan Perumahan (Persero), dan PT Wijaya Karya (Persero). Jembatan ini akan menghubungkan Desa Galala, Kecamatan Sirimau, dengan Desa Poka, Kecamatan Teluk Ambon.
“Menggunakan dana APBN dengan skema tahun jamak dari 2012 sampai 2014,” kata Direktur Jenderal Bina Marga, Djoko Murjanto, di Jakarta, Jumat, 27 Juli 2012.
Djoko menjelaskan anggaran tahun ini yang digunakan adalah Rp 50 miliar, anggaran tahun 2013 sebesar Rp 190 miliar, dan tahun 2014 Rp 185 miliar. Dia mengatakan pembangunan jembatan tersebut bertujuan untuk mengembangkan kawasan Galala-Teluk Ambon, sehingga mendorong pertumbuhan ekonomi.
Jembatan Merah Putih ini sudah dicanangkan sejak 2011. Pembangunan proyek jembatan sepanjang 1,06 kilometer ini dibagi menjadi dua tahap. Pertama, pembangunan bentang pinggir atau jalan akses sepanjang 760 meter. Tahap ini membutuhkan biaya Rp 249,614 miliar, sudah dimulai sejak 2011 dan ditargetkan rampung pada 2013.
Tahap kedua, pembangunan bentang tengah, pemerintah merencanakan selesai pada Desember 2014. Alokasi anggaran proyek bentang tengah sepanjang 300 meter ini dibagi menjadi tiga tahap.
Jembatan yang nantinya ketika rampung akan mirip dengan jembatan Suramadu (Surabaya-Madura)  ini tentunya kelak akan menjadi Icon kebanggaan bagi "Maluku" dan di harapkan mampu mengangkat nama maluku dalam prestasi pertumbuhan ekonomi nasional maupun dunia.

Proyek JMP Menurut Kacamata Masyarakat!!!
Saya bergabung dengan sebuah group di Sosial Net Facebook dengan nama group "Penyeberangan Perahu Tradisional Poka-Galala" yang dikelola oleh salah seorang teman saya. dalam gruop ini di bahas mengenai dampak yang dirasakan secara langsung oleh para "tukang panggayo" (pendanyung)  perahu tradisional ini. mereka khwatir dengan keberadaan mereka yang sudah menjalani profesi ini bertahun-tahun, bahkan secara turun-temurun. Bapa Lelemuku adalah seorang legendaris bagi masyarakat kota ambon yang sering menggunakan alat tranportasi tradisional ini, dimana hanya dengan mendayung perahu lelemukunya anak-anaknya sekarang telah menjadi orang-orang sukses. legenda bapak lelemuku juga menjadi bagian dari kehidupan para tukang panggayo perahu tersebut, karena dengan bermata pencaharian sebagai tukang panggayo perahu inilah mereka menghidupi keluarga mereka.
Perahu tradisional yang beroperasi di teluk Ambon setiap hari berjumlah 200 buah, dan menjadi favorit para mahasiswa Universitas Pattimura (Unpatti) Ambon."Dengan menggunakan jasa perahu, mereka lebih cepat tiba di kampus dibandingkan menggunakan kapal penyeberangan feri," Perahu tradisional di teluk Ambon ini juga menjadi lapangan kerja bagi sebagian masyarakat Galala dan Poka sejak turun-temurun. Bahkan ada pejabat yang dulunya berprofesi sebagai pendayung perahu untuk membayar uang kuliah. Sekarang ini pula ada mahasiswa yang mendayung perahu untuk membayar uang kuliah. Jadi perahu tradisional sangat membantu ekonomi keluarga dan mahasiswa, opini para pemerhati alat transportasi perahu tradisional yang terpapar di beberapa situs internet, menyuarakan keadilan bagi para pendayung perahu tradisional juga te;ah mewakili suara hati masyarakat pesisir pantai Poka dan Galala yang berprofesi sebagai pendayung perahu tradisional.
untuk memperjuangkan nasib mereka maka pada awal Desember 2011 lalu Puluhan orang yang mencari nafkah sebagai pendayung perahu tradisional penyeberangan Galala, Poka dan Rumah Tiga bersama aliansi peduli pengemudi perahu tradisional Ambon melakukan aksi demo di kantor Gubernur Maluku. Mereka mendesak Gubernur Maluku, Karel Albert Ralahalu menghentikan pekerjaan pembangunan jembatan Merah Putih yang akan menghubungkan Galala-Rumah Tiga, karena dinilai mematikan pendapatan pendayung perahu tradisional.
Alexander F. Belay, Ketua DPC PMKRI cabang Sanctus Fransiscus Xaverius, dari aliansi peduli pengemudi perahu tradisional Ambon dalam orasi demonstrasinya mengatakan berbagai dampak buruk dari pembangunan jembatan Merah Putih adalah terpuruknya perekonomian masyarakat lokal yang berada di sekitar lokasi jembatan Merah Putih khususnya pendayung perahu tradisional yang selama ini mencari nafkah dengan cara mendayung perahu penyebarangan Galala, Poka dan Rumah Tiga. Menurut Belay, Gubernur Maluku Karel Albert Ralahalu yang bertanggung jawab terhadap lebih dari 300 orang pendayung perahu tradisional Galala, Poka dan Rumah Tiga yang terancam hilang pekerjaannya akibat dibangunnya jembatan Merah Putih.


Analisis
Polemik Proyek pembanguanan Jembatan Merah Putih kembali menambah daftar panjang tentang Kebijakan pemerintah kota ambon untuk upaya memajukan pertumbuhan ekonomi daerah yang menuai protes warga. Pembangunan JMP ini menuai protes karena proyek ini di pandang berdampak langsung pada para pendayung perahu tradisional karena akan mematikan sumber mata pencaharian mereka.
menurut analisa saya, proyek ini tidak hanya menjadi proyek prestisius untuk perbaikan infrastruktur daerah, tetapi lebih kepada proyek pretisius menaikan gengsi pejabat pemerintah daerah sekaligus dijadikan sebagai media pencitraan untuk misi mereka pada tahap berikut jabatan mereka di tingkat Provinsi, dan sementara mereka sibu dengan karier politiknya, kebutuhan masyarakat kecil seperti mereka yang mendayung perahu tradisional untuk menghidupi keluarga tidaklah di perhatikan secara baik. Memang JMP akan menjadi sentral icon terbesar bagi Maluku tetap sekaligus menjadi Icon penderitaan bagi para pendayung perahu tradisional.
Menyimak janji pemerintah daerah yang mengungkapkan bahwa, pantai poka Rumah Tiga dan Galala akan di fungsikan sebagai daerah objek wisata pantai dan para pendayung perahu tradisional ini akan dibina untuk menjalani profesi mereka. hal ini menjadi tiupan angin surga bagi kami karena sebenarnya kami sangsi dengan janji itu, melihat fakta yang ada bahwa kondisi Teluk Ambon ini penuh dengan sampah, kemudian apakah ada yang tertarik berwisata di bawah jembatan itu?
Memang setiap kebijakan ada sisi negatif dan positifnya, harus ada yang di korbankan, tetapi apakah etis jika untuk proyek JMP yang perstisius ini harus mengorbankan masyarakat kecil? maka kembali di pertanyakan Nurani para pejabat pemerintah daerah kita. 
hmmm!!! semoga ada solusi yang tepat dan cerdas untuk menangani polemik ini.


Tetap Semangat Perjuangkan Hak Masyarakat kecil yang dilindas kebijakan Pemerintah yang tak bernurani

Selasa, 07 Agustus 2012

Marilah tetap Waspada dan Selalu Kerjakan Selamat Itu

Ketika membaca buku "Waspadalah dan Kejakanlah Selamatmu" yang adalah kumpulan pokok-pokok pikiran dari Pdt.Prof.DR.W.A. Roeroe, salah seorang teolog Indonesia yang terkenal sederhana namun selalu memiliki pemikiran yang walaupun bertolak daripada konteks Minahasa tempai beliau berdiam, tetapi pemikiran berbias secara global. Dari pemikiran Prof Willy (sapaan akrab Pdt.Prof.W.A.Roeroe) ini saya mengajak kita untuk melihat beberapa point di bawah ini :

1. Kenapa kita harus waspada?
Pertanyaan ini sesungguhnya telah terjawab ketika kita kembali menyadari, merasakan, dan merenungkan, situasi beberapa dekade terakhir di bumi tempat kita berpijak. realistislah kita bahwa di zaman akhir-akhir ini tidak ada yang akan baik-baik saja. semua kita akan menuai apa yang pernah kita tabur.
Bumi tempat kita tinggal, bumi yang kita sebut sebagai rumah itu ternyata diciptakan Allah dengan kekuatannya untuk memperbarui dirinya sendiri. 
Perubahan cuaca dan situasi alam yang sangat ekstreem, seperti badai, banjir, gempa, gunung api meletus, dan lain sebagainya itu yang kemudian kita simpulkan sebagai "Bencana Alam" karena dampak yang dirasakan secara luas oleh setiap manusia. karena hal inilah kita waspada, dan kewaspadaan kita justru karena kesadaran kita atas kesalahan kita terhadap alam (bumi) tempat kita tinggal ini.

2. Bagaimana Caranya Mengerjakan Ke-selamat-an itu?
Kata "selamat" bisa berarti ucapan atas sebuah keberhasilan/kesuksesan, tetapi kata selamat ini juga bisa berarti sebuah kondisi dimana kita terbebas dari ancaman bahaya. pada dasarnya inti dari kedua pengertian 
"selamat" ini satu yaitu ungkapan syukur dan terima kasih kepada sang Penolong dan sang Penopang yang membuat kita berhasil sehingga ucapan selamat itu di ungkapkan kepada kita.
Lalu, bagaimana kita mengerjakan selamat (ke-Selamat-an) itu? caranya adalah :

Pertama adalah Bertobat dan dalam pertobatan kita itu hendanya kita  kembali menyadari kesalahan yang kita pernah kita lakukan terhadap alam ini dan berbalik pada Allah karena kepada Dia ada Keselamatan. (baca : Mazmur 36:6-10) "Ya Tuhan, KasihMu sampai ke langit, setiaMu sampai ke Awan, Manusia....kau selamatkan! ya Tuhan betapa berharganya kasih setiaMu!
Anak-anak manusia berlindung dalam naungan sayapMu!! mereka mengenyangkan dirinya dalam rumahMu, engkau memberi mereka minum, sebab padaMu ada air hayat.."
Pemazmur kembali menyapa dengan berita kita tentang kasih Allah yang mampu menyelamatkan kita dari bencana. sehingga hikmah dari bencana yang di alami adalah supaya kita kembali dan dekat kepada Allah sumber hidup itu


 Kedua adalah belajar, belajarlah dari pada leluhurmu tentang bagaimana menjaga keutuhan ciptaan ini. mereka telah mewariskan kepada kita hikmat hidup yang kita kenal dengan sebutan kearifan lokal untuk membantu kita menjaga keseimbangan lingkungan hidup tempat kita tinggal. bahkan untuk modal untuk hidup kita, leluhur kita telah menananmkan pohon-pohon dalam kebun atau dusun yang mereka warisi untuk kehidupan kita bukan untuk di jual dan di tebang, tetapi justru pohon itu di tanam untuk melindungi kita karena mampu menahan air dan mencegah banjir. leluhur kita pun memberikan aturan sosial seperti Sasi laut dan darat untuk tidak mengambil hasil bumi sebelum waktunya tiba adlah untuk menjaga keutuhan ekosistem yang pada hakekatnya saling berkaitan. belajarlah dari pengalaman bencana yang pernah di hadapi, jagalah bumi ini, jagalah rumah kita jangan sampai rusak. kenyataannya bumi kita telah rusak maka,...

Yang Ketiga adalah, Berbenahlah, sebagaimana kita berbenah dari kerusakan yang kita alami atas bumi kita ini, maka terlebih dahulu kita berbenah dari diri kita sendiri, berbenahlah dari pikiran serakah kita, berbenahlah dan mulailah melihat kehidupan kita dan alam ini adalah sebagai satu rantai kehidupan yang tak boleh terputus hanya oleh ego dan ambisi serta keserakahan kita sebagai manusia.

Begitulah cara kita mengerjakan keselamatan itu, keselamatan bukan hanya untuk kita pribadi tetapi keselamatan untuk bumi ini dan sesama manusia.

3. Sadarlah Bahwa Menjaga Keutuhan Ciptaan Adalah Tugas Kita Bersama

Apa Itu Keutuhan Ciptaan?
Untuk menggambarkan tentang Keutuhan Ciptaan, dapat di gambarkan dengan sebuah gelang rantai yang dimana masing-masing mata rantai memiliki nilai dan fungsi yang sama sehingga saling kait-mengkait dan menjadi satu gelang rantai, jika satu mata rantai rusak dan terlepas maka tidak ada lagi keutuhan, dan akibatnya tidak bisa lagi disebut dengang gelang rantai karena terputus. Allah sang khalik (pencipta) menciptakan kita agar mahkluknya dan saling miliki hubungan ketergangungan dan itulah Keutuhan sebagai CiptaanNya nampak.
Melestarikan keutuhan ciptaan merupakan bagian dari proyek Kerajaan Allah, yang telah dimulai oleh Allah sejak dunia diciptakan. Kita manusia dipanggil untuk ikut serta melestarikan keutuhan ciptaan tersebut. Proyek itu dapat dimulai dari diri kita masing-masing dengan melakukan perkara-perkara kecil yang bermakna besar : mencintai bumi dan langit, menghargai tanah dan air dan segala makhluk yang hidup di dalamnya.
Tiga Point Penting yang perlu di Interpretasikan dan di Refleksikan (Program, Teologi, Iman)
Bukan hal yang mudah untuk mengembalikkan Lingkungan yang rusak itu untuk kembali pulih, membutuhkan proses dan waktu yang lama. Untuk itu perlu tindakan yang cepat dan tepat dalam pelaksanaan program rehabilitasi lingkungan. Perlu perhatian yang serius dari Pihak Lembaga keagamaan dan pemerintah secara baik. Tentunya tidak hanya bersifat teoritis dalam seminar, lokakarya, khotbah/ceramah semata. Tetapi perlu juga tindakan aktif dan partisipatif dari dua belah pihak. Menurut saya sangat perlu interpretasi yang baik terhadap tiga point yaitu :
1. Interpretasi Terhadap Program (Interpretasi Program); Artinya setiap program perencanaan untuk penanggulangan masalah lingkungan tersebut harus di artikan secara baik agar di pahami sehingga dalam pelaksanaan program dapat dilakukan secara konsisten. Dengan interpretasi Program yang baik dan jelas oleh pemerintah maka masyarakat akan semakin paham terhadap program yang sementari di jalankan khusunya dalam upaya penanggulangan kerusakan lingkungan
2. Interpretasi Terhadap Teologi (Interpretasi Teologi ); Teologi yang dirancangkan sehubungan dengan keutuhan ciptaan juga perlu di artikan secara baik tidak hanya dalam khotbah tetapi teologi di interpretasikan dalam sikap hidup yang sadar akan lingkungan tempat teologi itu tumbuh dan berkembang. Praktisnya berteologi untuk keutuhan ciptaan.
3. Interpretasi Terhadap Iman (Intepretasi Iman); Iman yang kita miliki juga harus perlu interpretasi juga secara baik. Tujuannya adalah agar kita sadar akan apa yang kita Imani. Kita meng-Imani tentang pentingnya sebuah kehidupan bersama sebagai keutuhan ciptaan Sang Khalik. Iman harus di interpretasikan sebagai sesuatu yang terus berproses dan berlanjut karena “Iman kita seharusnya tidak pernah Amin”. Pendeknya, ketika kita mengimani bahwa kehidupan kita bersama sebagai ciptaan di bumi ciptaanNya masing adalah mata rantai yang saling kait-mengait dan menjadi gelang rantai yang utuh sebagai sebuah Keutuhan Ciptaan, maka kita bertanggung jawab menjaga keutuhan ciptaan itu.

Tujuan dari interpretasi Program, Teologi, dan iman adalah sebagai langkah awal dari refleksi terhadap tiga poin tersebut .
1. Refleksi Program : setelah kita menginterpretasikan program pembangunan, maka perlu di refleksikan kembali program tersebut, ketika kita merefleksikan kembali program-program pembangunan maka diharapkan dapat melihat efek dari proyek pembangunan yang dilakukan, yaitu dampak pada kerusakan lingkungan sekitar proyek pembangunan
2. Refleksi Teologi. Setiap proses kehidupan yang kita jalani adalah aktualisasi dari teologi kita sesederhana apapun. refleksi yang baik terhadap teologi kita/pemahaman kita tentang pentingnya melestarikan Keutuhan Ciptaan, terlihat dari sikap hidup kita. Setiap masyarakat memiliki Kearifan Lokal yang menekankan pada pemeliharaan Lingkungan hidup, Kearifan Lokal itulah yang merupakan hasil refleksi teologis yang secara sederhana telah diaktualisasikan dalam kehidupan orang-orang tua kita yang mewariskannya untuk di lanjutkan. Landasan yang dipakai oleh mereka tentunya adalah Alkitab (kitab suci)
3. Refleksi Iman. Kita mengimani bahwa Allah adalah yang menciptakan Bumi dan isinya. Dan kemudian dengan iman itu kita melaksanakan tugas dan tanggung jawab menjaga keutuhan ciptaan.

dengan demikian maka ketika kita menjaga keutuhan ciptaan maka kita telah sementara mengerjakan Ke-Selamat-an bagi bumi ini. Tetaplah Waspada dan kerjakanlah Selamatmu.

semoga bermanfaat...

Amin

Referensi tulisan
1. "Waspadalah dan Kerjakan Selamatmu" kumpulan pokok pikiran Pdt. Prof.DR.W.A.Roeroe
2.Tulisan penulis tentang "Tanggung Jawab Bersama menjaga Keutuhan Ciptaan pada link : http://ervilhitipeuw.blogspot.com/2011/02/tanggung-jawab-bersama-menjaga-keutuhan.html


Jumat, 18 Mei 2012


PANDANGAN FRIEDRICH NIETZSCHE TERHADAP AGAMA KRISTEN
ERVIL HITIPEUW

 

Umat manusia tidak menggambarkan perkembangan yang lebih baik atau lebih kuat atau lebih tinggi dalam cara seperti yang di yakini sekarang ini. “Kemajuan”  merupakan suatu gagasan, dengan perkataan lain suatu gagasan palsu. Manusia zaman ini kurang nilainya dibandingkan orang-orang yang hidup pada zaman terdahulu. Kehidupam manusia telah mengalami dekadensi. Dalam pengertian lain terdapat kasus-kasus keberhasilan individual yang terus menerus muncul pada dan dalam berbagai bagian bumi. Manusia tidak terlepas dan tak akan pernah lepas dari lingkungan ia berada dimana didalam lingkungan tersebut terdapat pranata-pranata yang harus dijalani. Dimana didalamnya terdapat realitas dimana ada manusia yang ingin menjadi lebih tinggi, lebih kuat, lebih hebat (superman).

 Orang jangan sampai mendandani Kristianitas: agama ini telah telah melancarkan perang mati-matian terhadap jenis manusia yang lebih tinggi. Agama Kristen adalah agama kasihan. Kasihan merupakan antitesis terhadap emosi-emosi pengobat yang memperbesar energi perasaan kehidupan: kasihan memiliki efek depresif. Dalam setiap tindakannya hanyalah memihak pada yang lemah, rendah, penyakitan dan menghasut untuk memandang intelektualitas sebagai dosa, mengandung godaan. Kehidupan adalah insting untuk berkembang, kesinambungan, untuk menggalang kekuataan, untuk berkuasa. Ketika tidak ada kehendak berkuasa maka yang terjadi adalah dekadensi. Kebajikan yang merupakan nilai-nilai yang dimunculkan dari perasaan kasihan yang berasal dari sudut pandang filsafat nihilistik. Perasaan kasihan adalah salah satu instrument utama yang lebih mendorong ke dekadensi, yang akhirnya adalah ketiadaan.  

Janganlah meremehkan diri kita sendiri, kita jiwa-jiwa bebas, si\udah merupakan suatu “penilaian kembali terhadap semua nilai. Kita telah belajar dengan baik. Kita telah menjadi semakin sederhana.

Dalam agama Kristen moralitas dan agama tidak bersentuhan dengan realitas pada titik mana pun. Kecuali penyebab-penyebab (“Tuhan”, “Jiwa”, “ego”, “roh”, “kehendak bebas/tidak bebas”): tak ada satu pun selain akibat (dosa, penebusan, berkat, hukuman, pengampunan dosa). Penelaahan kritis atas konsep Kristen mengenai Tuhan mengundang simpulan yang sama. Suatu bangsa  yang masih mempercayai dirinya sendiri juga masih memiliki Tuhannya sendiri. Dalam diri Tuhan ini bagsa itu menghargai kondisi-kondisi yang telah membuatnya sejahtera, kebajikan-kebajikannya-bangsa itu memproyeksikan kegembiraan atas keadaan dirinya, perasaan berkuasnya kepada suatu kedirian yang bisa diberi terima kasih. Orang berterima kasih untuk keadaan dirinya untuk itu ia memerlukan Tuhan. Tuhan itu teman tapi juga adalah musuh. Orang memerlukan Tuhan yang jahat sama halnya dia membutuhkan Tuhan yang baik. Karena eksistensi orang tidak berasal dari toleransi..apa gunanya Tuhan yang tidak mengenal marah. Dalam agama Kristen konsepsinya tentang Tuhan adalah. Ketika kita berpikir, berharap untuk di sucikan saat oleh itulah kita tidak disucikan.

 

 

ANALISIS

Manusia perlu menjadi kuat agar ia dapat bertanggung jawab atas dirinya dan menjauhkannya dari dekadensi (kemerosotan) nilai-nilai kehidupan. Konsep ini lah yang dikembangkan Nietsche. sebenarnya adalah merupakan konsep berpikir yang sederhana namun jika ditanggapi dan di nilai hanya secara imaniah maka kita akan terjerumus dalam suatu dosa. Oleh karena itu perlu dilihat secara inteletualis dan imani agar seimbang. Tulisannya tentang Anti-Krist adalah sebagai dukungan terhadap teori ayahnya Darwin tentang (The Survival of the fittest) yang seperti hukum, rimba bahwa yang kuatlah yang menang. Karena hidup adalah perjuangan dan perjuangan membutuhkan kekuatan bukanya kebaikan dan atau kebajikan. Tersirat bahwa konsep Nietsche tentang Tuhan mirip dengan Sartre tentang Tuhan yang hanya adalah hasil konseptual manusia dan jika ingin membunuh Tuhan maka berhentilah berpikir dan Tuhan itu dengan sendiriy akan mati. namun hidup adalah berpikir ketika kita berhenti berpikir tentang Tuhan maka dengan demikan kita juga telah berhenti menjalani kehidupan yang senantiasa dipikirkan sebagai pemberian Tuhan itu. realitasnya kita tidak dapat berhenti untuk berpikir tentang Tuhan itu. Nietsche pun berkonsep bahwa Tuhan telah mati. 

Berbicara tentang manusia maka erat kaitannya dengan kepercayaan yang di milikinya (religio). Agama telah menjadi pandangan hidup manusia yang di jalani secara turun-temurun. Diawali dengan pertanyaan mengenai asal-usul keberadaan, maka terbentuklah  konsep tentang yang “menjadikan” (creator) maka timbullah agama itu yang mengatur kepercayaan dan atau keyakinan manusia. Agama Kristen yang menjadikan Kasih sebagai prinsip dianggap Nietsche sebagai penyebab dekadensi karena perlahan-lahan telah melemahkan manusia dan tidak menjadi kuat. 

Walaupun adalah kontras antara pemahaman Nietzsche dan pemikiran Kristiani namun hal yang positif yang dapat diambil tentu saja dengan menggunakan filter iman maka dapat dikatakan bahwa Manusia yang kuat itu harus ada bukan untuk dirinya secara inividu melainkan untuk menguatkan manusia-manusia yang lain. Karena manusia bukanlah tujuan akhir dari penciptaan melainkan sebagai mata rantai dari kesinambungan tujuan penciptaan. Karena penciptaan adalah yang tak pernah berakhir.

  1. Pandangan Kafir Sekaligus Kritikan Bagi Gereja

Pandangan Nistzsche mewakili pandangan segelintir manusia yang dinamakan kafir, disini saya tidak ingin membatasi sebutan kafir hanya pada kalangan atau kelompok orang yang belum mengenal Tuhan (seperti kepercayaan suku) dan saya pun tidak ingin mengklaim bahwa kalangan Kristen seluruhnya adalah mereka yang ber-Tuhan karena realitasnya ada orang yang tercatat beragama Kristen namun tingkah dan perbuatannya seperti tidak ber-Tuhan. Pandangan ini sekaligus menjadi bentuk kritikan yang pedas kepada keberadaan Gereja di tengah-tengah dunia. Di mana gereja diperhadapkan dengan situasi yang serius dan begitu kompleks baik itu seputar dogma maupun mengenai hubungan gereja dengan masyarakat sosial. Kritikan Nietzhce lebih mendarat pada dogma Gereja. Dapat dikatakan bahwa Nietszche ini sendiri adalah orang yang benar-benar telah menguasai Alkitab namun kemudian tidak menemukan kepuasan. Ketidakpuasan inilah yang telah membawanya kepada pemikiran-pemikiran kritis tentang Dogma Agama itu sendiri, terutama tentang keberadaan Tuhan

Filsuf               FRIEDRICH NIETZSCHE

Judul Buku      :Senjakala Berkala dan Anti-Krist

TUHAN PASTI  MENOLONGKU

 Aku memanggil Tuhan segera                                                                                                  

Ketika kutahu aku tak mampu lagi bergerak

Aku dan langkahku terhenti 

Aku memanggil Tuhan segera

Tetapi keangkuhan problema mematikan otakku

Aku memanggil Tuhan Segera

Dalam ketidakberdayaan tak hentinya

Dalam doaku yang tak panjang dan sekarat

Aku berusaha tetap memanggil Tuhan 

Tuhan sedari dulu selalu menjawab teriakku

Tuhan sedari dulu selalu memegang bahuku

Tuhan sedari dulu selalu menunggu kesadaran nuraniku

Aku manusia tak berdaya

Yang dimatikan keangkuhan dunia sementara

Aku tak tahu dan buta

Tak melihat ada yang membantuku berdiri

Mendorong kelemahan tubuhku dan berjalan memapah kepincanganku

Aku manusia tak tahu arah

Kuhilangkan arah yang diberikan hanya karena berpikir ‘aku ditolak dunia’

Aku memang ditolak dunia

Tetapi tidak ditolakNya

Mengapa tak pernah kusadari??

AKu kembali memanggil Tuhan, segera

Dan kali ini aku benar melihat

Seketika juga langkahku terayun

Aku berjalan dan bersiap kembali berteriak memanggil Tuhan

Selasa, 17 April 2012

Thomas Mattulessy atau Ahmad Lussy (Kontroversi Asal-usul Pattimura)



 Ketika penulis hendak menulis tentang sejarah Pattimura, penulis mengalami perasaan dilematis karena kontroversi dari Sejarah Pattimura ini sendiri. berkali-kali seminar yang di adakan untuk membahas sejarah Pattimura tetapi belum mendapatkan titik temu yang benar untuk mengukuhkan keabsahan sejarah ini, tentunya diperlukan Penelusuran terhadap sumber-sumber yang dapat di pertanggungjawabkan secara baik untuk menjelaskan asal-usul Pattimura. Karena kita tidak bisa menerima begitu saja ketika asal-usul Pattimura ini di usung hanya demi kepentingan salah satu Golongan agama tertentu.  berikut ini adalah 2 versi Sejarah Patimura yang menjadi kontroversi tersebut

Asal Usul Pattimura Yang Selalu Menjadi Bahan Perdebatan (Kontroversi)

Asal-usul Pattimura menurut versi pemerintah yang di tulis oleh M Sapija memaparkan bahwa Kapitan Pattimura Memiliki nama asli Thomas Matulessy, ini lahir di Negeri Haria, Saparua, Maluku tahun 1783. Perlawanannya terhadap penjajahan Belanda pada tahun 1817 sempat merebut benteng Belanda di Saparua selama tiga bulan setelah sebelumnya melumpuhkan semua tentara Belanda di benteng tersebut. Namun beliau akhirnya tertangkap. Pengadilan kolonial Belanda menjatuhkan hukuman gantung padanya. Eksekusi yang dilakukan pada tanggal 16 Mei 1817 akhirnya merenggut jiwanya.

 

Sementara itu menurut sejarawan Ahmad Mansyur Suryanegara, mengatakan bahwa Patimura memiliki nama asli  Ahmad Lussy atau dalam bahasa Maluku disebut Mat Lussy, lahir di Hualoy, Seram Selatan (bukan Saparua seperti yang dikenal dalam sejarah versi pemerintah). Ia bangsawan dari kerajaan Islam Sahulau, yang saat itu diperintah Sultan Abdurrahman. Raja ini dikenal pula dengan sebutan Sultan Kasimillah (Kazim Allah/Asisten Allah). Dalam bahasa Maluku disebut Kasimiliali.

Perjuangan Pattimura

 Pada tahun 1816 pihak Inggris menyerahkan kekuasaannya kepada pihak Belanda dan kemudian Belanda menetapkan kebijakan politik monopoli, pajak atas tanah (landrente), pemindahan penduduk serta pelayaran Hongi (Hongi Tochten), serta mengabaikan Traktat London I antara lain dalam pasal 11 memuat ketentuan bahwa Residen Inggris di Ambon harus merundingkan dahulu pemindahan koprs Ambon dengan Gubenur dan dalam perjanjian tersebut juga dicantumkan dengan jelas bahwa jika pemerintahan Inggris berakhir di Maluku maka para serdadu-serdadu Ambon harus dibebaskan dalam artian berhak untuk memilih untuk memasuki dinas militer pemerintah baru atau keluar dari dinas militer, akan tetapi dalam pratiknya pemindahan dinas militer ini dipaksakan. Kedatangan kembali kolonial Belanda pada tahun 1817 mendapat tantangan keras dari rakyat. Hal ini disebabkan karena kondisi politik, ekonomi, dan hubungan kemasyarakatan yang buruk selama dua abad. Rakyat Maluku akhirnya bangkit mengangkat senjata di bawah pimpinan Kapitan Pattimura. Maka pada waktu pecah perang melawan penjajah Belanda tahun 1817, Raja-raja Patih, Para Kapitan, Tua-tua Adat dan rakyat mengangkatnya sebagai pemimpin dan panglima perang karena berpengalaman dan memiliki sifat-sfat kesatria (kabaressi). Sebagai panglima perang, Kapitan Pattimura mengatur strategi perang bersama pembantunya. Sebagai pemimpin dia berhasil mengkoordinir Raja-raja Patih dalam melaksanakan kegiatan pemerintahan, memimpin rakyat, mengatur pendidikan, menyediakan pangan dan membangun benteng-benteng pertahanan. Kewibawaannya dalam kepemimpinan diakui luas oleh para Raja Patih maupun rakyat biasa. Dalam perjuangan menentang Belanda ia juga menggalang persatuan dengan kerajaan Ternate dan Tidore, raja-raja di Bali, Sulawesi dan Jawa. Perang Pattimura yang berskala nasional itu dihadapi Belanda dengan kekuatan militer yang besar dan kuat dengan mengirimkan sendiri Laksamana Buykes, salah seorang Komisaris Jenderal untuk menghadapi Pattimura. 

Pertempuran-pertempuran yang hebat melawan angkatan perang Belanda di darat dan di laut dikoordinir Kapitan Pattimura yang dibantu oleh para penglimanya antara lain Melchior Kesaulya, Anthoni Rebhok, Philip Latumahina dan Ulupaha. Pertempuran yang menghancurkan pasukan Belanda tercatat seperti perebutan benteng Belanda Duurstede, pertempuran di pantai Waisisil dan jasirah Hatawano, Ouw- Ullath, Jasirah Hitu di Pulau Ambon dan Seram Selatan. 


Akhir Perjuangan Pattimura
Di sebuah rumah di Siri Sori, Kapitan Pattimura berhasil ditangkap pasukan Belanda. Bersama beberapa anggota pasukannya, dia dibawa ke Ambon. Di sana beberapa kali dia dibujuk agar bersedia bekerjasama dengan pemerintah Belanda namun selalu ditolaknya.

Akhirnya dia diadili di Pengadilan kolonial Belanda dan hukuman gantung pun dijatuhkan kepadanya. Walaupun begitu, Belanda masih berharap Pattimura masih mau berobah sikap dengan bersedia bekerjasama dengan Belanda. Satu hari sebelum eksekusi hukuman gantung dilaksanakan, Pattimura masih terus dibujuk. Tapi Pattimura menunjukkan kesejatian perjuangannya dengan tetap menolak bujukan itu. Di depan benteng Victoria, Ambon pada tanggal 16 Mei 1817, eksekusi pun dilakukan.
 

Memang benar bahwa  perlu sebuah kepastian tentang asal usul Pattimura dan untuk hal ini perlu adanya tindakan pelurusan sejarah yang didukung dengan penelitian sumber-sumber yang otentik dan faktual.  Penuturan sejarah heroik Kapitan Pattimura adalah penuturan secara lisan yang di sampaikan secara turun temurun bagi anak cucu. gambaran wajah sang Pattimura itu pun hanya hasil imajinasi pelukis sesuai karakteristik dan tipe wajah orang Maluku atau mungkin ada yang bisa memberikan bukti foto dari Thomas Matulessy atau Ahmad Lussy itu sendiri.

Sebagai Anak Pribumi Maluku penulis hanya ingin memaparkan  2 versi asal usul Pattimura ini berdasarkan hasil penelusuran penulis terhadap sejarah Pattimura yang penulis temukan dari beberapa Blog yang beberapa diantaranya bukanlah blog yang bersifat independen melainkan bertendensi pada pencintraan suatu golongan Agama.

Pattimura adalah milik Maluku tidak hanya menjadi milik orang Hualoy (seram) atau Orang Haria (Saparua). Perjuangan Pattimura adalah untuk membebaskan Tanah Maluku Negeri raja-raja dari tangan penjajah dan perjuangan itu tanpa tendensi agama atau golongan. 

Sebagai Anak Pribumi Maluku penulis hanya ingin memaparkan  2 versi asal usul Pattimura ini berdasarkan hasil penelusuran penulis terhadap sejarah Pattimura yang penulis temukan dari beberapa Blog yang beberapa diantaranya bukanlah blog yang bersifat independen melainkan Blog bertendensi pada pencintraan suatu golongan Agama yang kemudian tidak bisa diterima sebagai kebenaran yang mutlak tentang sejarah Pattimura


Saksi Bisu Sejarah Pattimura



 Benteng Duurstede. Benteng tempat perjuangan Pattimura bersama teman-temannya

 

Fort Victoria (sekarang telah menjadi Markas KODIM 733 Batalyon Masariku) sebagai saksi Sejarah Kegigihan Pattimura dalam mengusir penjajah dari tanah Maluku. Di depan benteng ini Pattimura di jatuhkan hukuman Gantung kata-kata terakhirnya yang terus di turunkan kepada anak-anak cucu negeri maluku yaitu "Pattimura Tua sudah mati, tapi Pattimura-Pattimura muda akan bangkit".

 

Lawamena Haulala....!!! 

Senyum Semangat Untuk Maluku



Haruskah senyuman tulus ini pudar dari wajah mereka, haruskah semangat mereka kita hentikan?


Hidup jauh dari tanah kelahiran, jauh dari basudara di Maluku semakin memacu diri ini untuk berbuat yang terbaik di tanah rantau dan mempersembahkan yang terbaik untuk membangun tanah tercinta. Saat meninggalkannya,  negeri pusaka itu sedang menjerit kesakitan, ada darah anak negeri yang tertumpah, ada tangisan menetes di bumi Maluku. Agama dijadikan biang masalah untuk memenuhi hasrat keinginan mereka yang terkutuk itu. Hidup basudara di adu domba laeng bunuh lain, dan hidup dengan saling curiga.  
Masih teringat saat  suara adzan menyerukan kedamaian, masih terkenang saat suara lonceng gereja menggemakan suara kedamaian. Bagiku suara Adzan dan Lonceng gereja itu  adalah suara Tuhan yang memanggil kita untuk hidup damai dalam kasih. Suara Tuhan dalam adzan dan lonceng gereja kemudian tak lagi dihiraukan, suara itu berganti makna menjadi panji dan genderang perang  antar sudara.
Samua luka itu sudah berakhir tangis dan wajah suram bumi Maluku mulai berubah menjadi senyuman dan  semangat untuk kembali bangkit dan menunjukkan jati dirinya.
Mari katong jaga senyum itu mari katong piara semangat itu.
Jang mau dibodohi dan dipengaruhi  orang yang  seng mau lia ktong hidup damai.
Kasi tinggal rasa binci, lapas rasa dendam dari dalam diri.
Mari katong SENYUM SEMANGAT UNTUK MALUKU

ALE RASA BETA RASA………….
KALWEDO KIDABELA………….
RATU NORKID MONUK DEDESAR……………..
LAWA MENA HAULALA……………