Selasa, 07 Agustus 2012

Marilah tetap Waspada dan Selalu Kerjakan Selamat Itu

Ketika membaca buku "Waspadalah dan Kejakanlah Selamatmu" yang adalah kumpulan pokok-pokok pikiran dari Pdt.Prof.DR.W.A. Roeroe, salah seorang teolog Indonesia yang terkenal sederhana namun selalu memiliki pemikiran yang walaupun bertolak daripada konteks Minahasa tempai beliau berdiam, tetapi pemikiran berbias secara global. Dari pemikiran Prof Willy (sapaan akrab Pdt.Prof.W.A.Roeroe) ini saya mengajak kita untuk melihat beberapa point di bawah ini :

1. Kenapa kita harus waspada?
Pertanyaan ini sesungguhnya telah terjawab ketika kita kembali menyadari, merasakan, dan merenungkan, situasi beberapa dekade terakhir di bumi tempat kita berpijak. realistislah kita bahwa di zaman akhir-akhir ini tidak ada yang akan baik-baik saja. semua kita akan menuai apa yang pernah kita tabur.
Bumi tempat kita tinggal, bumi yang kita sebut sebagai rumah itu ternyata diciptakan Allah dengan kekuatannya untuk memperbarui dirinya sendiri. 
Perubahan cuaca dan situasi alam yang sangat ekstreem, seperti badai, banjir, gempa, gunung api meletus, dan lain sebagainya itu yang kemudian kita simpulkan sebagai "Bencana Alam" karena dampak yang dirasakan secara luas oleh setiap manusia. karena hal inilah kita waspada, dan kewaspadaan kita justru karena kesadaran kita atas kesalahan kita terhadap alam (bumi) tempat kita tinggal ini.

2. Bagaimana Caranya Mengerjakan Ke-selamat-an itu?
Kata "selamat" bisa berarti ucapan atas sebuah keberhasilan/kesuksesan, tetapi kata selamat ini juga bisa berarti sebuah kondisi dimana kita terbebas dari ancaman bahaya. pada dasarnya inti dari kedua pengertian 
"selamat" ini satu yaitu ungkapan syukur dan terima kasih kepada sang Penolong dan sang Penopang yang membuat kita berhasil sehingga ucapan selamat itu di ungkapkan kepada kita.
Lalu, bagaimana kita mengerjakan selamat (ke-Selamat-an) itu? caranya adalah :

Pertama adalah Bertobat dan dalam pertobatan kita itu hendanya kita  kembali menyadari kesalahan yang kita pernah kita lakukan terhadap alam ini dan berbalik pada Allah karena kepada Dia ada Keselamatan. (baca : Mazmur 36:6-10) "Ya Tuhan, KasihMu sampai ke langit, setiaMu sampai ke Awan, Manusia....kau selamatkan! ya Tuhan betapa berharganya kasih setiaMu!
Anak-anak manusia berlindung dalam naungan sayapMu!! mereka mengenyangkan dirinya dalam rumahMu, engkau memberi mereka minum, sebab padaMu ada air hayat.."
Pemazmur kembali menyapa dengan berita kita tentang kasih Allah yang mampu menyelamatkan kita dari bencana. sehingga hikmah dari bencana yang di alami adalah supaya kita kembali dan dekat kepada Allah sumber hidup itu


 Kedua adalah belajar, belajarlah dari pada leluhurmu tentang bagaimana menjaga keutuhan ciptaan ini. mereka telah mewariskan kepada kita hikmat hidup yang kita kenal dengan sebutan kearifan lokal untuk membantu kita menjaga keseimbangan lingkungan hidup tempat kita tinggal. bahkan untuk modal untuk hidup kita, leluhur kita telah menananmkan pohon-pohon dalam kebun atau dusun yang mereka warisi untuk kehidupan kita bukan untuk di jual dan di tebang, tetapi justru pohon itu di tanam untuk melindungi kita karena mampu menahan air dan mencegah banjir. leluhur kita pun memberikan aturan sosial seperti Sasi laut dan darat untuk tidak mengambil hasil bumi sebelum waktunya tiba adlah untuk menjaga keutuhan ekosistem yang pada hakekatnya saling berkaitan. belajarlah dari pengalaman bencana yang pernah di hadapi, jagalah bumi ini, jagalah rumah kita jangan sampai rusak. kenyataannya bumi kita telah rusak maka,...

Yang Ketiga adalah, Berbenahlah, sebagaimana kita berbenah dari kerusakan yang kita alami atas bumi kita ini, maka terlebih dahulu kita berbenah dari diri kita sendiri, berbenahlah dari pikiran serakah kita, berbenahlah dan mulailah melihat kehidupan kita dan alam ini adalah sebagai satu rantai kehidupan yang tak boleh terputus hanya oleh ego dan ambisi serta keserakahan kita sebagai manusia.

Begitulah cara kita mengerjakan keselamatan itu, keselamatan bukan hanya untuk kita pribadi tetapi keselamatan untuk bumi ini dan sesama manusia.

3. Sadarlah Bahwa Menjaga Keutuhan Ciptaan Adalah Tugas Kita Bersama

Apa Itu Keutuhan Ciptaan?
Untuk menggambarkan tentang Keutuhan Ciptaan, dapat di gambarkan dengan sebuah gelang rantai yang dimana masing-masing mata rantai memiliki nilai dan fungsi yang sama sehingga saling kait-mengkait dan menjadi satu gelang rantai, jika satu mata rantai rusak dan terlepas maka tidak ada lagi keutuhan, dan akibatnya tidak bisa lagi disebut dengang gelang rantai karena terputus. Allah sang khalik (pencipta) menciptakan kita agar mahkluknya dan saling miliki hubungan ketergangungan dan itulah Keutuhan sebagai CiptaanNya nampak.
Melestarikan keutuhan ciptaan merupakan bagian dari proyek Kerajaan Allah, yang telah dimulai oleh Allah sejak dunia diciptakan. Kita manusia dipanggil untuk ikut serta melestarikan keutuhan ciptaan tersebut. Proyek itu dapat dimulai dari diri kita masing-masing dengan melakukan perkara-perkara kecil yang bermakna besar : mencintai bumi dan langit, menghargai tanah dan air dan segala makhluk yang hidup di dalamnya.
Tiga Point Penting yang perlu di Interpretasikan dan di Refleksikan (Program, Teologi, Iman)
Bukan hal yang mudah untuk mengembalikkan Lingkungan yang rusak itu untuk kembali pulih, membutuhkan proses dan waktu yang lama. Untuk itu perlu tindakan yang cepat dan tepat dalam pelaksanaan program rehabilitasi lingkungan. Perlu perhatian yang serius dari Pihak Lembaga keagamaan dan pemerintah secara baik. Tentunya tidak hanya bersifat teoritis dalam seminar, lokakarya, khotbah/ceramah semata. Tetapi perlu juga tindakan aktif dan partisipatif dari dua belah pihak. Menurut saya sangat perlu interpretasi yang baik terhadap tiga point yaitu :
1. Interpretasi Terhadap Program (Interpretasi Program); Artinya setiap program perencanaan untuk penanggulangan masalah lingkungan tersebut harus di artikan secara baik agar di pahami sehingga dalam pelaksanaan program dapat dilakukan secara konsisten. Dengan interpretasi Program yang baik dan jelas oleh pemerintah maka masyarakat akan semakin paham terhadap program yang sementari di jalankan khusunya dalam upaya penanggulangan kerusakan lingkungan
2. Interpretasi Terhadap Teologi (Interpretasi Teologi ); Teologi yang dirancangkan sehubungan dengan keutuhan ciptaan juga perlu di artikan secara baik tidak hanya dalam khotbah tetapi teologi di interpretasikan dalam sikap hidup yang sadar akan lingkungan tempat teologi itu tumbuh dan berkembang. Praktisnya berteologi untuk keutuhan ciptaan.
3. Interpretasi Terhadap Iman (Intepretasi Iman); Iman yang kita miliki juga harus perlu interpretasi juga secara baik. Tujuannya adalah agar kita sadar akan apa yang kita Imani. Kita meng-Imani tentang pentingnya sebuah kehidupan bersama sebagai keutuhan ciptaan Sang Khalik. Iman harus di interpretasikan sebagai sesuatu yang terus berproses dan berlanjut karena “Iman kita seharusnya tidak pernah Amin”. Pendeknya, ketika kita mengimani bahwa kehidupan kita bersama sebagai ciptaan di bumi ciptaanNya masing adalah mata rantai yang saling kait-mengait dan menjadi gelang rantai yang utuh sebagai sebuah Keutuhan Ciptaan, maka kita bertanggung jawab menjaga keutuhan ciptaan itu.

Tujuan dari interpretasi Program, Teologi, dan iman adalah sebagai langkah awal dari refleksi terhadap tiga poin tersebut .
1. Refleksi Program : setelah kita menginterpretasikan program pembangunan, maka perlu di refleksikan kembali program tersebut, ketika kita merefleksikan kembali program-program pembangunan maka diharapkan dapat melihat efek dari proyek pembangunan yang dilakukan, yaitu dampak pada kerusakan lingkungan sekitar proyek pembangunan
2. Refleksi Teologi. Setiap proses kehidupan yang kita jalani adalah aktualisasi dari teologi kita sesederhana apapun. refleksi yang baik terhadap teologi kita/pemahaman kita tentang pentingnya melestarikan Keutuhan Ciptaan, terlihat dari sikap hidup kita. Setiap masyarakat memiliki Kearifan Lokal yang menekankan pada pemeliharaan Lingkungan hidup, Kearifan Lokal itulah yang merupakan hasil refleksi teologis yang secara sederhana telah diaktualisasikan dalam kehidupan orang-orang tua kita yang mewariskannya untuk di lanjutkan. Landasan yang dipakai oleh mereka tentunya adalah Alkitab (kitab suci)
3. Refleksi Iman. Kita mengimani bahwa Allah adalah yang menciptakan Bumi dan isinya. Dan kemudian dengan iman itu kita melaksanakan tugas dan tanggung jawab menjaga keutuhan ciptaan.

dengan demikian maka ketika kita menjaga keutuhan ciptaan maka kita telah sementara mengerjakan Ke-Selamat-an bagi bumi ini. Tetaplah Waspada dan kerjakanlah Selamatmu.

semoga bermanfaat...

Amin

Referensi tulisan
1. "Waspadalah dan Kerjakan Selamatmu" kumpulan pokok pikiran Pdt. Prof.DR.W.A.Roeroe
2.Tulisan penulis tentang "Tanggung Jawab Bersama menjaga Keutuhan Ciptaan pada link : http://ervilhitipeuw.blogspot.com/2011/02/tanggung-jawab-bersama-menjaga-keutuhan.html


Tidak ada komentar:

Posting Komentar