Selasa, 18 September 2012

Bangkit dari Kelelahan Spiritual (2 Korintus 11:21b-33)


Sebagai manusia kita pasti selalu merasakan kelelahan tidak hanya secara fisik, tetapi juga secara secara batiniah. Dalam keadaan lelah batiniah ini kemudian terekspresi dalam tindakan dan perilaku kita. Dalam kelelahan fisik, nampaklah dalam sikap kita yaitu tidak bersemangat atau tidak bergairah untuk melakukan sesuatu hal, dan untuk itu kita memerlukan istirahat dan tidur yang cukup untuk mengumpulkan kembali tenaga serta kekuatan kita untuk, kita memerlukan nutrisi yang cukup untuk juga  mengembalikan kembali energi dan stamina kita. Namun terkadang disaat-saat mengalami kelelahan fisik kita ingin makan yang banyak dan  tidur yang panjang bahkan tidak ingin bangun lagi dan beraktifitas, dan ingin bermalas-malasan saja tidak mau melakukan aktifitas apa-apa lagi karena kelelahan. Itulah sikap dari kebanyakan kita  sebagai manusia yang sering mengalami kelelahan fisik, kita ingin menikmati sebuah istirahat yang panjang.
Bagaimana jika kita mengalami kelelahan spiritual? Dalam kehidupan manusia, kelelahan spiritual terjadi karena krisis yang memuncak, masalah datang bertubi-tubi dan tak pernah terselesaikan dengan sempurna dan itulah yang mengalami kelelahan spiritual. Kelelahan spiritual tidak selalu akan Nampak dalam kelelahan fisik tergantung setiap pribadi yang mengalami kelelahan spiritual tersebut. Gejala yang tampak pada seseorang yang mengalami kelelahan spiritual adalah kegelisahan, mudah marah (sensitive), menikmati hiburan secara berlebihan (lewat Nonton TV, bermain Game), ingin memperoleh ketenangan, dan perasaan untuk berputus asa selalu menyertai kelelahan spiritual tersebut. Secara konkrit gejala dari  kelelahan spiritual itu dapat kita lihat dalam masing-masing diri kita yang memiliki tugas dan tanggung jawab sebagai pelayan Tuhan yaitu ketika melihat kalender pelayanannya. Misalnya ketika melihat jadwal pelayanannya yang sudah semakin dekat, terkadang kita menggerutu dalam hati “waduhh su mau dekat beta pung giliran, beta mw biking ibadah ni model bagaimana lay” atau ketika menjelan natal dan kita mulai menggertutu, “Huffttt… su amper natal ni pasti beta akan paling sibuk dan menguras banyak tenaga lay kombali”.  Secara tanpa sadar kalimat-kalimat yang kita keluarkan tersebut merupakan ekspresi dari kelelahan kita, masalah-masalah yang tidak terselesaikan dengan sempurna itu menjadi beban yang begitu berat bagi kita dan mengantarkan kita pada kejenuhan tersebut.
Kelelahan spiritual yang terlalu lama dan mendalam ditambah dengan kelelahan diri, akan membawa kita pada kehancuran spiritual. Biasanya seseorang akan berdoa ketika dia mengalami sukacita, kebahagiaan, saat memperoleh masalah berat dalam kehidupan, tetapi ketika masalah-masalah itu seakan tak bisa diselesaikan dengan sempurna maka membuat akan kita putus asa bahkan saat-saat itulah waktu untuk kita berdoa menjadi hal yang sangat berat untuk dilakukan  bagi kita. Kita seolah-olah ingin beristirahat yang panjang tanpa diganggu, bahkan kita ingin beristirahat dalam hubungan kita dengan Tuhan sekalipun.   Kita menjadi tidak siap untuk mengalami perubahan dengan menolak melakukan hal-hal yang bisa membantu kita untuk mencari solusi untuk masalah-masalah kita. Konkritnya kita tidak ingin lagi berdoa padahal kita tahu bahwa membangun sebuah komunikasi dalam hubungan kita dengan Tuhan itu sangat penting, namun hanya karena kejenuhan yang kita alami terlalu mendalam itu maka kitapun menolak untuk melakukannya. Sadarlah dengan demikian maka kita membiarkan Ironi itu terus berlanjut dalam hidup kita..
Secara manusiawi  Paulus  dalam pelayanannya pasti mengalami kelelahan yang luar biasa, tetapi dia selalu mau menjaga komunikasinya secara pribadi dengan Tuhan. Paulus dalam pelayanannya menghadapi tantangan yang luar biasa, ia dipukuli, masuk penjara, kapal yang di tumpanginya karam dan terkatung-katung di laut, mendapat tantangan dari kaum yahudi maupun bukan yahudi. Ia mengalami penderitaan yang hebat dan itu pasti membuat dia lemah dan kelelahan (ayat 23-27) tetapi Paulus tetap berusaha untuk bersemangat dengan cara terus membangun komunikasi dengan Tuhan. Hubungan Paulus dengan terbina dengan begitu istimewa sehingga spiritualitasnya pun tidak menjadi terpuruk seperti keadaannya yang terpuruk itu. Dalam pelayanannya dia selalu ber-empati dengan mereka yang menderita dan lemah. Dan sikap Paulus ini memberikan kepada kita tentang arti pelayanan yang sesungguhnya. Dia benar-benar memberikan dirinya utuh untuk menjadi alat yang Tuhan pakai dalam fungsi melayani, memperhatikan, menguatkan dan menopang kehidupan umat Tuhan. Paulus sebagai seorang murid Gamaliel seorang cendikiawan, ilmuwan, guru besar pada zamannya tentunya Paulus pun adalah orang yang sangat pintar  dan segani juga di hormati bahkan membuat sosok Paulus menjadi orang yang menentang  Kristus. Tetapi kemudian ketika dia melewati proses kehidupan bersama dengan Tuhan ia pun berubah menjadi pribadi yang rendah Hati sama seperti pribadi Kristus yang dia wartakan kepada jemaat-jemaatnya khususnya di Korintus. Paulus bermegah justru karena kelemahannya di dalam Tuhan. 
Karena dengan jujur atas keadaan diri yang lemah kepada Tuhan dan mengandalkan kuasa Tuhan yang bekerja dalam kehidupan, maka spiritualitas Paulus itupun selalu terjaga karena dia mengandalkan Tuhan untuk tugas pelayananya juga dia menjaga hubungannya dengan Tuhan supaya tetap istimewa.
Mungkin saja saat ini kita merasakan kelelahan spiritual yang luar biasa membebani kehidupan kita tetapi, berbagai persoalan kehidupan yang terberujung akhir. Tetapi dengan menjaga hubungan kita dengan Tuhan secara istimewa sama seperti yang di contohkan Paulus itu, maka kita akan bisa bangkit dari kelelahan spiritual kita, sehingga kita tidak putus asa untuk terus maju dan berjuang menghadapi tantangan kehidupan. Tantangan itu akan terus ada dan kita tidak akan bisa mampu mencegah agar tantangan itu tidak dating dalam kehidupan kita, karena jiwa kita justru sangat memerlukan tantangan hidup supaya lewat tantangan itu jiwa kita menjadi kuat, dan jalan kita didalam Tuhan selalu menjadi mantap, kita menjadi pribadi yang kokoh dan siap menjadi berkat bagi sesama. Saat kita merasakan sakitnya jatuh karena kelelahan kita itulah saat yang tepat bagi kita untuk menerima perubahan dalam hidup kita, yaitu dengan meraih Tangan Tuhan yang selalu ada untuk menopang kita. Dengan hati yang jujur akan kelemahan kita dihadapan Tuhan, maka kita pasti akan melihat dengan jelas tangan Tuhan yang terulur untuk membantu mencari solusi yang tepat untuk masalah kita.

Semoga renungan ini bisa menjadi motivasi iman bagi kita untuk terus berupaya menjaga  hubungan yang istimewa dengan Tuhan, percayalah Tuhan selalu bersama-sama dengan kita dalam langkah juang pelayanan kita..Amin..

Senyum Semangat Untuk Pelayanan Kita

Tidak ada komentar:

Posting Komentar